IBX589487275DEC7 Mak - Catatan Ira Guslina

Mak

Oktober 04, 2009

-->
-->
Ini adalah hari pertama. Berikutnya menjadi hari-hari usang. Layu, dan terbuang bersama senja. Dalam hampa dan getir cinta.

Tongkatku berderik. Waktu telah memakan kekuatannya. Tapi aku masih mujur, paling tidak benda yang selalu menemani hari-hariku setahun terakhir itu masih bisa menopang tubuhku yang kian layu. 

Krii..k. Sekali lagi ia berderik. Memaksa aku terpaku dan terduduk di bangku dekat jendela. Kuputuskan untuk duduk dan memeriksa tongkat itu. Syukurlah. Hanya ada bagian yang terlepas, tidak sampai patah. Aku tersenyum. Tongkat buatan suamiku itu masih bisa dipakai. Tanpa sadar, mataku berpendar ke seisi ruangan, lalu menumbuk gambar usang yang terpajang di antara pintu-pintu bilik rumah kami.

Sepasang suami istri yang bahagia, diapit dua orang gadis dan seorang anak laki-laki tampan. Berlima mereka melempar senyum seraya bergaya. Sesaat aku bahagia. Kenangan masa-masa muda yang pernah kujalani terlintas begitu saja. Tetapi itu hanya sesaat. Beberapa detik kemudian aku terhenyak dalam kesunyian. 

Dada-dadaku tiba-tiba sesak. Panas tubuhku meninggi. Seluruh cairan menggelegak dan menyesak ke ubun-ubun. Pilu dan nanar yang sejak tadi kutahan tiada lagi terbendungkan. Setiap kali mataku tertumbuk bingkai petak itu, air mataku membuncah. Mengairi setiap lekukan kerut di wajahku. 

“Halo, Mak. Apa kabar? Mak sehat saja bukan?”

Pikiranku tiba-tiba melayang pada kejadian lima belas menit yang lalu. Ketika telepon genggam itu berdering. Ketika percakapan hampa dan penuh basa-basi itu terjadi. 

“Tit..tut…tit..tut…tit….”

Beberapa kali ia berbunyi. Kuseret langkah kakiku yang berat menuju sudut rumah. Pelan sekali. Siss-sisa kekuatan yang masih kumiliki tak cukup cepat untuk segera menekan tuts menjawab pangggilan itu.

“Halo Mak, ini Dinda”

Wassalamualaikum, Dinda sayang. Anakku, lama Amak menanti telepon mu. Kemaren Amak hubungi tak diangkat. Ada apa Nak?” Serangan kata-kata tak kuasa kebendung. Akhirnya, Dinda menghubungiku, Setelah sekian lama tak kudengar kabar darinya. 

“Ah Mak,” Dinda menjawab dingin. Dingin sekali. Hatiku menjadi seperti terhimpit berton-ton batu es. Tak ada penyesalan kutemukan disana. Ia menepis kerinduaku. Ia terus saja bercerita tentang dunianya yang baru. “Mungkin Dinda ndak dengar. Lupakanlah Mak. Oya Mak, akhirnya kemaren Dinda sampai juga melihat patung Liberti. It’s Wonderful Mak. Padahal sudah enam tahun Dinda disini, tapi baru kali ini Dinda sempat kesana. Di Amrik ini Mak, Patung liberty is a great place. Nanti kalau Amak datang Dinda ajak kesana. Amak pasti tercengang.”

Dinda terus melanjutkan ceritanya. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang diceritakannya. Tetapi aku berusaha mengerti. Sambil mengiya-iyakan saja apa yang diucapkan anak bungsuku itu. 

Aku tak mau Dinda sedih. Bagaimana aku bisa menghiburnya jika Dinda bersedih. Tak mungkin lagi ku tepuk-tepuk punggungnya, usap rambutnya, dan tiup keningnya kalau Dinda menangis. Ia kini tidak lagi Dinda kecilku. Lagipula jarak telah memisahkan kami bermil-mil jauhnya. Bahkan aku tidak pernah tahu seperti apa kediaman Dinda sekarang. Aku tidak tahu bagaimana suhu disana. Aku hanya tahu bahwa Dindaku bahagia. 

“Mak, what happened. Kenapa Mak diam?”

Ah, lagi-lagi Dinda berbicara padaku dengan bahasa yang tidak kupahami. Bagaimana aku bisa mengerti, sekolah SMP saja aku tidak lulus. Lagi pula waktu SMP dulu, aku tidak belajar bahasa yang seperti Dinda ucapkan. Mempelajari bahasa Indonesia yang baik dan benar saja, bukan main sulitnya.

Kurasa Dinda hanya heran kenapa aku terdiam. Tak mungkin Dinda tahu ketidakmengertianku ini.

“Ah ndak Din. Mak Cuma rindu. Kapan kamu pulang Nak?” ucapku memecah kebekuan.

“Entahlah. Dinda lihat-lihat jadwal Dinda dulu. Siapa tahu ada waktu libur yang agak panjang. Kalau tidak, ya lihat nanti ajalah Mak!”

Dinda tak akan pulang. Otakku langsung menyimpulkan. Cepat sekali otakku menyimpulkannya seakan itu sudah menjadi alam bawah sadarku. Bukankah, begitu terus jawaban Dinda setiap kali kuajukan pertanyaan yang sama. Ah, Dinda, mengapa engkau menjawabnya dengan begitu santai. Tidakkah engkau rindu pada kami, Mak dan Abahmu, rindu dengan rumah kita, kampung kita. Apakah engkau merasakan getaran yang sama tentang kerinduan yang semakin hari menyesak di dadaku ini, Nak. Sudah sejauh itukah jarak yang memisahkan kita sehingga sebegitu sulitnya bagiku untuk bersua denganmu.

Dadaku semakin sesak. Sedikit tercekat aku berusaha menahan agar suaraku tetap sama. Tidak bergetar. Tetapi air mataku tidak kuasa untuk sedikit bersabar sebelum pembicaraan usai. Kubiarkan saja air itu menetes, membanjiri mukaku. Dinda tak akan melihat air mata ini. Dinda juga tak akan mendengar suara ini. Apalagi getaran di hati ku yang baru saja dihantam badai besar. Dinda tak akan tahu, atau mungkin tak akan pernah tahu.

Aku tak kuasa menahan. Tapi aku lebih tak kuasa memberi tahu Dinda apa yang aku rasakan. Biarlah ia dengan dunianya.

Sebelum tangisku benar-benar pecah, kuputuskan untuk mengakhiri saja pembicaraan kami. Tetapi belum sempat aku berujar, suara dari seberang lebih dahulu mengangetkan dan menyadarkanku. “Ok. Setelah ini Dinda ada jadwal lain. Sudah dulu ya Mak. Dah!!”

Astaga. Dinda ternyata lebih tersiksa dariku. Bahkan sebelum aku memutuskan pembicaraan, dia sudah buru-buru berniat pergi. Dinda, pasti tersiksa dengan rutinitas menelpon ini. Dinda pasti tersiksa dengan basa-basi ini. Apakah aku sudah menyita waktu dan kesibukannya. Oh Tuhan Maafkanlah aku.

“Baiklah anakku. Maaf kan Mak, Sayang. Assalamualikum

Diam. Tak ada jawaban. Salamku pun tidak berjawab. Dengan hati berat kutahan semua. Mungkin Dinda sudah diburu waktu. Kucoba untuk tetap berbaik sangka dengan anakku. Mudah-mudahan dia selamat. “Wassalamualaikum” batinku sembari menjawab salam yang kuucapkan sendiri.
Telepon kuletakkan lagi. Hatiku semakin larut dalam kekacauan. Badai itu telah meluluhlantakkan kasih sayang yang kubangun bertahun-tahun. Dua puluh enam tahun ternyata masih belum cukup untuk membuat kasih sayangku itu berbunga dan berbuah ranum. Atau mungkin angin kencang dan musim yang berat telah menumbangkan pohon kasih sayangku itu.

Tidak. Itu tidak mungkin. Aku berusaha sekuat tenaga menyangkalnya. Aku terduduk. Lemas, setengah terkulai di atas bangku rotan yang mulai rapuh. Memandang jauh dari balik jendela rumah lontiok [i]kami yang tinggi. Hamparan sawah yang membentang di hadapanku menjadi begitu sempit. Menghimpit dan menekan dadaku. Terus, dan terus menekan. Menyudutkanku dalam kesendirian dan kegetiran.

***

Dinda anakku yang keempat. Perempuan nomor dua. Anakku yang pertama perempuan. Yati namanya. Ia sudah menikah dan dikaruniai dua orang putra. Sekarang ia tinggal di Rupat. Yati lulus Pegawai Negeri Sipil dan ditempatkan di pulau itu. Sebuah Pulau yang sebelumnya tak pernah kubayangkan. Disana ia berkenalan dengan sesama PNS dan kemudian menikah.

Anakku yang kedua Anto, sekarang ia merantau dan tinggal di Batam. Baru dua tahun ia disana, mencari untung dengan bekerja bersama seorang pengusaha Cina. Katanya ia akan pulang begitu uang terkumpul. Sekarang gajinya baru cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dia anak laki-lakiku satu-satunya.

Ah bukan. Bukan dia satu-satunya. Tetapi dia satu-satunya anak laki-laki yang sempat kubesarkan. Adiknya, anakku yang ketiga juga laki-laki. Meninggal saat baru berumur dua hari. Kata dokter ia meninggal karena lemah dan kurang cairan.

Aku dan suami menyimpan harapan besar pada anak-anak kami. Kepada mereka kasih sayang dan perhatian kami tercurah. Kami pun mengupayakan agar mereka mendapat pendidikan yang baik. Alhamdulillah, anak-anakku termasuk anak yang cerdas. Yati bisa kami sekolahkan hingga meraihkan gelar sarjana pendidikan. Anto juga kami kuliahkan. Tetapi tahun kedua ia memilih meninggalkan bangku kuliah dan mencoba berwiraswasta. Sedang anakku yang keempat Dinda. Otaknya yang cemerlang telah mengantarkannya menempuh pendidikan ke luar negeri. Awalnya ia mendapat beasiswa kuliah di Amerika Serikat. Setelah itu ia bekerja dan menetap disana. Sejak itu pula ia tidak pernah pulang.

Yati adalah tumpuan kami. Sebagai anak tertua, aku berharap ia bisa menggantikanku. Mengelola sawah dan kebun. Tetapi ternyata, harapan tinggallah harapan. Hari pernikahan Yati adalah kesedihan besar pertama bagiku dan suamiku. Setelah itu aku tidak pernah lagi tertawa. Hari-hari kulalui dalam kerinduan yang membara.

Sebagai anak tertua, dan perempuan pula, aku sangat menantikan hari perkawinan mereka. Sanak saudara banyak yang bertanya kapan Yati menikah. Dalam adat kami, pernikahan anak perempuan pertama harus dihelatkan besar-besaran. Apalagi aku termasuk keturunan pembesar adat. Sebagai penghuni rumah lontiok, sudah menjadi keharusan bagiku dan keturunanku untuk memegang adat.

Bulan pertama kelulusan Yati, kami masih hanyut dalam keharuan. Meski banyak orang yang menyebut Pulau Rupat itu jauh, kami tidak ambil pusing. Kami letakkan niat kami pada pengabdian dan perjuangan. “Mudah-mudahan ini merupakan langkah yang baik. Awali saja dengan bismillah dan jalani dengan keikhasan. Insyaallah jika Tuhan mengizinkan setelah tiga tahun bekerja, Yati bisa mengurus pindah tugas ke sekolah terdekat di kampung ini,” ujar suamiku setiap kali ia membaca kegetiranku.

Pernah suatu kali ketika pulang dari pengajian, seorang tetangga bertanya padaku tentang keberadaan Gusni. Aku pun memberitahunya dengan tenang. Tetapi tetanggaku malah menjawab dengan dingin. “Mudah-mudahan saja dia bisa kembali. Kata orang kalau sudah minum air Rupat, alamat tak bisa pulang lagi ke kampung halaman,” ujarnya dengan nada tak bersalah. Tentu saja dia tidak bersalah. Dia hanya menyampaikan apa yang biasa dia dengar. Tetapi bagiku mendengar jawaban itu adalah sebuah kesalahan. Sejak itu bayangan akan kemungkinan terburuk bahwa Yati tidak akan kembali sering membuat dadaku tersedak.

Suamiku adalah obat penawar yang tersisa. Dengan dialah aku meluahkan segalanya. Kasih sayang, perhatian, kepercayaan, semuanya tertumpah padanya setelah anak-anakku satu per satu meninggalkan rumah. Setiap kali aku bersedih ia hadir dengan kelembutan. Dialah yang membuatku tetap percaya bahwa aku adalah perempuan hebat karena telah melahirkan anak-anak yang hebat.

Begitu juga ketika Yati menyampaikan niatnya untuk menikah. Pertama kali ia memberitahu bahwa ia telah menjalin kasih dengan PNS berdarah Rupat, hatiku remuk. Harapan bahwa Yati pasti pulang, hilanglah sudah. Berganti dengan kesia-sian dan kehampaan.

Aku bukannya tidak senang dengan kabar itu. Apalagi umur Yati yang hampir berkepala tiga menghukumnya untuk segera menikah. Tetapi yang aku sesalkan, mengapa harus dengan pemuda Rupat. Mengapa tidak dengan salah satu pemuda di kampong kami. Paling tidak dengan pemuda dari daratan, bukan pemuda dari kepulauan yang sulit kujangkau.

“Mak, Yati sudah memutuskan. Yati harap Mak merestui pernikahan kami,”.

Diam. Suasana menjadi hening. Yati tidak bisa lagi ditahan. Keinginanyna sudah bulat. Cinta dan kasih sayang yang tumbuh di hatinya sudah tidak bisa lagi dipupuskan. Aku mengalah. Kasih sayang telah meluluhkan hatiku. Tak kuasa aku membayangkan jika pernikahan itu kutolak. Yati pasti sedih dan terluka.

Hari pernikahan berlalu. Tiba bagiku untuk mengantarkan Yati ke rumah barunya, di Pulau Rupat. Itulah perjalanan pertama dan terakhir. Itu pula pengalaman naik kapal pertama dan terakhir bagiku. Setelah itu ia tidak pernah lagi pulang. Tiga kali lebaran sudah berlalu sejak aku mengantarnya. Tak sekalipun ia pulang dan datang. “Insyaallah lebaran depan kami pulang Mak,” ujar Yati lirih suatu kali aku meneleponnya.

Aku pasrah menunggu, sebab bagiku sudah tidak mungkin untuk menjenguk kesana. Lumpuh yang kuderita sejak setahun lalu memaksaku hanya bisa bergerak di sekitar rumah saja. Itupun hanya dengan bantuan sebuah tongkat tua.

Tongkat itu memang sudah tua. Tetapi itulah buah kasih sayang suamiku yang sejati. Sebuah tongkat tua yang setia. Dia selalu ada membantuku. Menemani hari-hariku. Mengisi sisa-sisa senja, tanpa Yati dan Dinda.***



[i] Rumah Adat Kampar

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.