IBX589487275DEC7 Krisis Air Lagi - Catatan Ira Guslina

Krisis Air Lagi

September 30, 2015

Cuaca Jakarta hari ini panas sekali. Tak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Sepertinya di atas 33 derajat, Gerah. Meski matahari tak lagi di atas ubun-ubun, dan mendekati waktu ashar, tetapi panasnya tak kunjung surut.

Tiba-tiba pintu rumah diketok dari depan. Suaranya saya kenal, itu Mama Putra,  tetangga sebelah rumah.

"Mba minta air ya," ujar tetangga itu.

Saya bergegas membukakan pintu, seraya mempersilakan dia mengambil air dari keran yang terletak di depan rumah. Kontrakan yang kami huni sekarang memang punya dua keran. Satu di kamar mandi dan satu lagi di depan rumah.

"Sumur kami kering, tak bisa dipompa. Tadi pagi masih ada airnya tapi kecil," ujar tetangga itu memberi penjelasan.

Dalam hati saya bersyukur, tak mengalami nasib yang sama dengan tetangga. Rumah kami menggunakan air dari PDAM.

 Sejak musim kemarau melanda, pasokan air ke rumah kami selalu terjaga. Airnya juga bersih dan segar. Kami tak sempat mengalami kekeringan seperti masyarakat di banyak tempat seperti yang sering saya tonton di televisi. 

Saya tak bisa bayangkan kalau rumah yang kami tempati sekarang juga mendapat suplai air dari sumur bor. Musim kemarau seperti sekarang, alamat saya harus mengangkut air dari MCK umum di ujung gang seperti yang dilakukan beberapa tetangga. 

Tinggal di Jakarta, tentu saja tak bisa hanya mengharapkan pasokan air dari sumur bor semata. Sebab persediaan air tanah Jakarta dari tahun ke tahun semakin menipis.

Berdasarkan data pemerintah DKI, setiap tahun tanah Jakarta mengalami penurunan hingga 10,8 centimeter. Bahkan di Jakarta Utara penurunannya mencapai 28 centimeter pertahun.

Jakarta merupakan kota dengan penurunan muka tanah tertinggi di dunia. Bahkan bila penggunaan air tanah semakin tak terkendali, Jakarta berpotensi tenggelam dalam 40 tahun ke depan.

Sebagai warga Jakarta tentu kita tak bisa tinggal diam dan berpangku tangan saja. Bila tak bisa melakukan hal besar, kita bisa memulai dengan hal-hal sederhana di lingkungan rumah tangga.

Prinsip hemat tetap harus diutamakan untuk memastikan pasokan air terus terjaga. Gunakan air seperlunya. Dan jangan pernah tinggalkan kran dalam keadaan menyala. ***

3 komentar:

  1. Air juga berbahaya ya kalau kota kayak Jakarta. Kita ndak tau airnya tercemar apa. Apalagi pabrik dan rumah sangat padat.

    Thanks Infonya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah.... Makanya harus semakin peduli...:-)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus

Diberdayakan oleh Blogger.