IBX589487275DEC7 Rambu di Simpang Tiga - Catatan Ira Guslina

Rambu di Simpang Tiga

Oktober 02, 2017
Nulisbuku.com

LELAKI itu datang lagi. Persis seperti subuh-subuh sebelumnya. Menunggangi bebek tua dengan rompi kulit buaya.

Saban hari ia mengunjungiku di simpang tiga ini. Ia selalu datang dengan percaya diri. Sejak aku diboyong ke kota ini, dialah satu-satunya lelaki yang setia menatapku. Lelaki yang dari waktu ke waktu semakin bersahaja di mataku. 

Aku tak yakin sepenuhnya apa yang membuat dia begitu menarik.  Bisa saja senyumnya. Bisa juga ketenangannya memacu motor bebek itu, tak pernah lebih dari 60 kilometer per jam. Atau mungkin karena helm coklat tua yang selalu menempel di kepalanya. Entahlah. Yang pasti kuingat, dia selalu menatap setiap kali berpapasan denganku. 

Pernah suatu pagi ia datang lebih lambat dari biasa. Matahari telah tersenyum dengan sempurna. Padahal, biasanya ia datang tak lama setelah ayam-ayam berkokok. Tapi tahukah kamu. Meski terlambat ia tak pernah tergesa-gesa.  

Ya. Aku tahu persis bagaimana lelaki tua itu begitu berbeda dengan lelaki lain yang selalu lalu lalang di simpang tiga ini. Tentu saja aku tahu siapa dia. Tidakkah kamu tahu, aku sudah begitu lama tinggal di sini. Kalau aku tak salah hitung, ini sudah empat dekade. 

Ketika pertama kali datang ke kota ini, kulitku mulus dan halus. Orang-orang sangat suka melihat padaku. Mungkin karena aku pendatang baru. Atau karena lipstik merahku yang begitu menonjol. Sejak itulah aku kenal lelaki itu. Dia juga masih muda ketika itu. Meski muda ia tak berbeda dengan lelaki yang pagi ini datang lagi menghampiriku. Lelaki dengan motor bebek yang dipacu sedang. Lengkap dengan rompi dan helm cokelat tua di kepala. 

Kini, ketika kulitku tak lagi putih, tak banyak lelaki yang peduli. Para wanita juga banyak yang enggan melirikku. Mungkin karena kulitku sudah lusuh tersengat matahari. Wajahku pun penuh garet dan luka. Aku juga tak sekuat dulu. Keropos menyerang hampir seluruh persendianku. Atau mungkin juga karena orang-orang di kota ini makin tertular penyakit acuh. Tak pernah lagi meminta pendapat padaku. 

Tapi biarlah. Aku tak akan merisaukan muka-muka acuh itu. Apa kamu tahu. Mereka sudah merasakan sendiri akibat mengabaikan nasehatku. Memandang sebelah mata padaku. 

Apa? Kamu mau tahu? Tentu aku tak bisa menceritakan satu-satu padamu. Terlalu banyak yang telah terjadi di hadapanku.

Baiklah. Baiklah. Jika kamu benar-benar ingin tahu, akan aku ceritakan satu saja untukmu. Agar kamu tak berlaku seperti itu. Ini cerita yang masih sangat baru. Terjadi dua jam lalu sehingga masih segar di ingatanku.

***

Malam semakin dingin. Muson Timor yang membawa angin kering dari daratan Australia lima bulan terakhir mulai tak sanggup menolak perjamuan para embun. Sedikit demi sedikit ia biarkan embun menghinggap dan membuat malam mendingin. 

Aku tak tahu persisnya ini pukul berapa. Kulihat beberapa lampu gerobak kaki lima kembali menyala. Bu Sri pedagang warteg tak jauh dari tempatku mulai sibuk membuat lauk. Anak buah Uda Jasman, pemilik warung nasi Padang di sebelah kedai Bu Sri juga mulai mendandang beras. Aroma bumbu yang ditumis telah mampir ke tempatku.

Itu pertanda aku juga harus mulai mematut diri. Merapikan tubuhku yang dihinggapi debu. Menggosok kulit putihku agar tak terlalu kelihatan pucat. Sebentar lagi, lelaki pujaanku akan datang menemuiku. Di sini. Di simpang tiga ini.

Sedang asyik aku mematut, tiba-tiba dari kejauhan kulihat dua pemuda memacu motor 150 cc dengan sangat kencang. Mereka berboncengan, melaju tepat ke arahku.

Dengan sigap aku bangkit. Demi menjalankan tugas, sesaat kulupakan dulu cermin dan sikat besi. Hup. Aku berdiri persis di arah mereka datang. 

Seperti kerasukan kuacung-acungkan wajahku pada dua pemuda tanggung itu. 

"Hei, kalian. Lihatlah ke sini," ujarku setengah berteriak. 

Dua pemuda itu bergeming. Mereka tetap sibuk bicara berdua sambil terus memacu motornya. 

"Hei, anak muda. Tidakkah kau dengar aku. Lihat wajahku barang sekejap," ujarku semakin keras. 

Mereka tetap tak mendengar. Padahal aku lihat tak ada helm yang menghalangi pendengaran mereka dariku. 

Kamu tahu sendiri kan, aku tak bermaksud melarang mereka melaju. Aku hanya berjaga-jaga. Mengingatkan agar mereka tak melewati arah terlarang. Sudah sering kutemukan para pengendara motor yang meregang nyawa karena mengacuhkanku. 

Susah payah aku menjulur-julurkan diri, tetap saja dua pemuda di atas motor itu tak peduli. Aku setengah frustasi. Bukan karena membayangkan apa yang akan mereka alami. Aku hanya khawatir acara pertemuan dengan lelaki berhelm cokelat tua subuh nanti terganggu. 

Tak lama, ketika mereka semakin dekat, pemuda di belakang stang melirik ke arahku. Badannya kurus. Tatapan matanya kosong. 

"Bro. Gimana nih. Kita ke mana?" ujar pemuda itu. Ia meminta pendapat pada pemuda berbadan gempal yang membonceng di belakang. 

"Kiri aja Nyuk. Lebih cepet," ujarnya singkat. 

"Tapi Bro, itu," ujar si kurus sambil menunjuk ke arahku. 

Aku senang sekali. Akhirnya dua pemuda itu melihatku. Bahkan yang kurus menunjuk-nunjuk padaku. Segera kusunggingkan senyum manis, agar mereka tergoda mengikutiku.  

"Halah. Kiri aja. Sikat!" Tiba-tiba pemuda gempal di belakang menjawir pundak si kurus. Mereka berdua lalu tertawa terkekeh. Dan..., seperti yang aku takutkan, tanpa mengurangi kecepatan mereka berbelok ke kiri. Aroma alkohol merayapi udara.  

Dari tempat ini, aku hanya bisa terpaku. Ini kegagalanku untuk kesekian kalinya. Aku semakin rendah diri karena tak dianggap. Usiaku yang semakin tua rupanya benar-benar telah membuat dua pengendara muda itu lupa.

Ah sudahlah. Tak guna aku merundung. Lebih baik aku persiapkan diri kembali menyambut kedatangan lelaki tua penuh pesona itu. Kuambil lagi sikat besi yang tadi sempat kulempar. Tiba-tiba. 

Dumm.. Brak! Dari jalanan di sebelah kiriku terdengar bunyi yang sangat keras. Suaranya menggema ke mana-mana. 

Orang-orang yang sudah terjaga dari berbagai antero menghambur keluar. Sekelebat kulihat Bu Sri dan pegawai Uda Jasman juga berlari ke arah dentuman. Aku juga bersiap ikut. Melihat apa yang terjadi. Tapi siapa yang mau membawaku melihat dentuman keras itu.

Baiklah. Aku di sini saja. Memasang telinga lebar-lebar. Sambil berjaga-jaga kalau-kalau ada lagi pengendara yang mau lewat pagi buta begini.

Tak berapa lama, dari tempatku berdiri, aku mulai mendengar suara-suara dari arah dentuman tadi. Orang-orang sahut bersahut membicarakan apa yang terjadi. Bu Sri sudah kembali sambil masih memegangi perut. Anak buah Uda Jasman juga mengekor di belakang dengan muka masih setengah pucat.

Tahukah kamu apa yang aku dengar?

 Ya. Ya. Kamu benar sekali. Dua pemuda tadi mengalami tabrakan. Sudah berpuluh tahun di simpang tiga ini, aku tak terkejut lagi mendengar kabar kecelakaan. Mereka yang tak mau melirik dan mengikuti saranku biasanya berakhir begitu. Tapi ini yang paling tragis. Paling mengerikan sepanjang karirku.

Motor pemuda itu menabrak truk molen yang sedang melaju di jalan satu arah itu. Karena terlalu cepat, motor sport itu terpelanting. Pemuda kurus di belakang stang terperosok ke kolong molen. Sedang pemuda gempal yang kuceritakan tadi jatuh dan terlindas roda molen, persis di bagian perutnya.

Kamu bisa bayangkan sendiri bagaimana tragisnya itu. Tak perlu kuceritakan lagi. Sekarang aku ingin kembali menyiapkan diri. Kau lihat itu. Lelaki yang kunanti sudah semakin dekat. 

***
Ya. Lelaki tua berhelm cokelat yang kuanti itu mendekat. Tak lama lagi dia akan sampai di tiang listrik terakhir sebelum pertigaan. Itu sekitar dua meter di depanku. Dari sana biasanya dia akan melirik, lalu menatapku. Sungguh aku tak sabar menunggu.

Segera kusibakkan poni merah muda di kepalaku. Itu hadiah Tuan angin tiga tahun lalu. Tuan angin membawakan serpihan pompom gadis-gadis remaja dari SMA tak jauh dari pertigaan ini. Aku suka hadiah itu. Aku tahu, Tuan Angin sengaja memberiku agar lebih manis bila bertemu lelaki tua itu.

Dan kini, lelaki itu semakin dekat. Ia mulai melirik ke arahku. Aku melambaikan tangan. Ia membalasya dengan senyuman. Aku menyukai momen itu. Kami bertatapan agak lama. Sampai-sampai aku terlupa.

Tiba-tiba seorang pengendera motor menyalip lelaki itu dari kanan dan berbelok ke kiri. Itu arah yang tak boleh ia lalui. Ia menyenggol motor lelaki tua pujaanku. Motor bebek itu oleng ke kiri dan jatuh. Lelaki berhelm coklat tua terjerembab persis di kakiku.

Aku sempat khawatir dengan lelaki tua itu. Badannya yang renta tak akan sanggup menahan benturan sekeras itu. Apalagi, aku lihat sendiri bagaimana kepalanya terbentur di trotoar, sebelum akhirnya menyeruduk tubuhku.

Kurang lebih dua menit, lelaki tua itu lalu bangkit. Ia berdiri lalu membuka helm dan menyeka celananya. Sedang di kejauahan sana, persis dari arah samping kiriku, lagi-lagi terdengar dentuman keras.

Aku tak lagi mempedulikan dentuman itu. Mataku tertuju pada lelaki tua di hadapanku. Aku sangat lega karena dia baik-baik saja. Helm coklat tua yang aku suka ternyata telah melindungi kepalanya.

Di kakiku, di bawah fajar yang mulai menyingsing, lelaki itu kembali menatapku. Sambil tersenyum ia memandangku sangat lama sekali. Memandang tepat ke mukaku. Ke arah garis lengkung dengan diagonal merah di tengahnya. Sebuah rambu dilarang belok ke kiri.

--End--

Blog post ini  juara II pada Kompetisi Menulis Cerpen ‘Tertib, Aman, dan Selamat Bersepeda Motor di Jalan.’ #SafetyFirst Diselenggarakan oleh Yayasan Astra-Honda Motor dan Nulisbuku.com

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.