IBX589487275DEC7 Satu Aplikasi untuk Setiap Momen Tak Terganti - Catatan Ira Guslina

Satu Aplikasi untuk Setiap Momen Tak Terganti

November 24, 2017


Keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang. Tempat segala rindu membesar dan bersandar.
*** 
Entah dari mana dulu awalnya saya mendapat istilah ini, keluarga tempat terbaik untuk pulang. Kenyataannya, pikiran sadar dan bawah sadar saya hampir sepenuhnya setuju, bahwa keluarga adalah tempat terbaik untuk pulang. Pulang melepas penat, pulang melepas rindu, pulang menemukan energi dan semangat baru. 

Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara, rumah orang tua di kampung, Nagari Batipuh, Sumatera Barat, selalu menyimpan rindu. Apalagi untuk saya yang sejak selepas SMA sudah menyandang status perantau. Udaranya, embun di pagi hari, cericit burung, sahutan ayam berkotek dan berkokok, suara kambing mengembek, dan gonggongan anjing penjaga rumah selalu memanggil untuk pulang. 

Pulang menjadi momen yang ditunggu. Paling tidak satu kali dalam setahun selalu diupayakan untuk menjejakkan kaki di tanah kelahiran, Ranah Minang. Biasanya momen yang tak bisa terlewatkan adalah saat lebaran idul fitri. Ketika seluruh handai dan taulan berkumpul bersama. 


keluarga besar yang membuat selalu rindu untuk pulang

Dulu, saat masih merantau ke Pekanbaru untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi, tak sulit bagi saya untuk pulang. Bila rindu membuncah sampai ke ubun, tinggal kemas barang lalu pergi ke terminal. Beli tiket bus, lalu bersiap menikmati perjalanan darat 7-8 jam membelah bukit barisan hingga akhirnya sampai di rumah nun di lereng Gunung Marapi. 


Sekarang, delapan tahun bekerja dan menetap di Jakarta, pulang menjadi momen langka bagi saya. Bisa rutin setahun sekali itu sudah luar biasa. Saat awal-awal merantau ke Jakarta, setiap kali mau pulang kampung rempongnya luar biasa. Terutama dalam menyiapkan akomodasi untuk pulang. 

Dua tahun pertama, saya masih mengandalkan pemesanan tiket pesawat lewat agent travel. Saya ingat pada lebaran pertama, nyaris tak bisa pulang kampung karena kehabisan tiket pesawat murah. Saya baru tahu, menjelang lebaran rute Jakarta-Padang amatlah padat sampai-sampai sebulan menjelang hari H tak lagi tersedia tiket murah. 

Setengah tak percaya, saya mendatangi beberapa agent travel. Memastikan ketersedian tiket di agent travel berbeda. Hasilnya tetap sama. Kalau masih ada harganya sudah di atas Rp1,5juta. Ketimbang menghabiskan separuh THR untuk membeli tiket, saya akhirnya memilih pulang dengan bus, menempuh perjalanan darat dua hari dua malam. Merenda hari di jalanan di antara masa libur lebaran yang hanya beberapa hari. 


Danau Singkarak, Gunung Talang, mengundang rindu untuk pulang

Tahun kedua lebaran ceritanya tak jauh berbeda. Meski sudah mulai mencuri-curi info harga melalui situs resmi maskapai, untuk eksekusi tetap harus wara-wiri ke beberapa agent travel untuk mendapatkan harga terbaik. Saat itu tingkat kepercayaan saya untuk melakukan transaksi online belum seperti sekarang.

Demi mendapatkan harga terbaik, bahkan saya langsung mendatangi kantor maskapai penerbangan berharap bisa mendapatkan harga lebih murah. Hasilnya, sama saja. Saya harus bertekuk lutut di harga di atas Rp 1 juta. Tak ada pilihan, demi suatu kata bernama pulang. 

Seiring berkembangnya teknologi informasi, pada tahun ketiga, tahun 2012, saya mulai mengenal situs pembanding harga tiket pesawat online Traveloka. Awalnya melihat berita, lalu menemukan iklannya di majalah dan media elektronik. Sebagai orang yang selalu kerepotan dengan urusan pesan memesan tiket pesawat, saya langsung tertarik untuk mencoba. 

Saya ingat, saat pertama kali menggunakan situs ini pada 2012, hal pertama yang dilakukan adalah mencari ketersediaan dan harga tiket untuk lebaran berikutnya. Dan, hasilnya sungguh menggoda. Meski saat itu Traveloka baru sebatas situs pembanding tiket pesawat, saya sudah merasa senang. Hanya dengan menggerakkan kursor dan duduk anteng di kantor, saya bisa menemukan informasi tiket termurah tanpa harus bolak-balik mengecek beberapa situs maskapai penerbangan. 


Satu Aplikasi untuk Momen Tak Terganti 


momen tak terganti, cucu dan kakek

Tahun 2013 menjadi babak baru dalam kehidupan saya. Setelah menikah di akhir tahun sebelumnya, kata pulang menjadi jauh lebih dalam. Apalagi suami juga berasal dari ranah minang. Pulang tak lagi hanya ke rumah orang tua, tetapi juga ke rumah mertua di lereng Gunung Talang, Solok, Sumatera Barat. 

Pernikahan dengan lelaki Minang membuat saya jadi makin sering pulang ke Padang. Ketika di rumah mertua ada kenduri besar menegakkan gelar Datuk kepada adik mama mertua, saya dan suami harus pulang untuk ikut membantu mertua. Begitu juga ketika papa mertua meninggal dunia. 

Ketika ibu mertua menikah lagi, kami kembali harus mondar-madiri Jakarta-Padang. Dan untuk setiap kepulangan itu, saya dan suami selalu memercayakan urusan transportasi pada Traveloka. #JadiBisa pulang kapan saja. 


"Aplikasi Traveloka yang user friendly memudahkan saat melakukan pemesanan, membuat betah dan sulit berpindah ke lain hati."

Tak hanya untuk urusan ‘pulang’. Perkenalan saya dengan Traveloka juga telah menyelamatkan suami dari kehilangan momen tak terganti. Ceritanya, saat lahiran anak kedua, Azizah, saya memilih melahirkan di Padang. Persalinan akan dilakukan dengan operasi Caesar. 


Di ruang UGD menunggu operasi


Saat itu saya dan suami memilih tak buru-buru menentukan tanggal persalinan. Meski persalinan lewat operasi Caesar memungkinkan kami menjadwalkan persalinan jauh hari, saya dan suami bersepakat lahiran setelah saya merasakan ada kontraksi agar si kecil lebih siap lahir ke dunia. Saya dan suami tak khawatir dengan ketersediaan tiket lantaran selama ini kami selalu bisa mendapatkan tiket di Traveloka bahkan untuk penerbangan di hari H.  


Senin malam, 11 Mei 2015, saya mulai merasakan ada kontraksi, namun datangnya masih sesekali. Saya kira itu baru pemanasan. Ternyata esok paginya, rasa nyeri di pinggang makin terasa. Saat itu usia kandungan sudah 38 minggu. Saya akhirnya meminta suami pulang ke Padang untuk menemani saya menjalani operasi. 

Mendengar kabar itu suami langsung memesan tiket pesawat melalui aplikasi Traveloka yang memang sudah terinstall sebelumnya. Tak lama, suami mengabarkan kalau urusan tiket sudah beres. Ia akan terbang ke Padang pada malam hari. Saya pun tenang. Bayangan bisa melahirkan ditemani suami membuat saya bersemangat menyongsong persalinan.


mudahnya pesan tiket pesawat di Traveloka


Tanpa merasa ada yang salah hari itu ia bekerja seperti biasa. Siangnya saya iseng meminta suami mengirimkan email e-tiket dari Traveloka. Tiket online ini sudah diterima  tak lama setelah sukses melakukan transaksi. Namun ternyata. OMG!

Setengah tak percaya saya baca ulang rincian tiket itu. Berulang-ulang hasilnya tetap sama. Rute yang dipilih suami adalah Padang-Jakarta. Padahal seharusnya Jakarta-Padang.  Langsung terlintas di pikiran akan uang pembelian tiket yang melayang. Barangkali karena saking senangnya, suami jadi tak teliti saat memilih destinasi.

Setelah memastikan pada suami, saya langsung menelepon customer service traveloka. Menjelaskan kekeliruan yang dibuat suami dan menanyakan solusi. Dengan gamblang petugas menjelaskan aturan penggantian tiket dan langkah yang harus ditempuh. Proses penggantian juga dijelaskan melalui situs termasuk informasi mengenai lamanya proses refund.

Saya lantas mengisi form dan memasukkan data yang diminta untuk proses refund. Ada perasaan setengah lega karena duit kami tak melayang begitu saja. Setelah mengurus refund, saya pun mencarikan tiket untuk kepulangan suami. Kali ini dengan destinasi yang benar, Jakarta-Padang. 


sukses refund dengan mudah



Rabu, 13 Mei 2015 putri kedua kami lahir. Saya bahagia ada suami di samping yang menemani masa berat usai operasi. Selang beberapa waktu kemudian, kurang dari waktu 60 hari yang dijanjikan, kabar baik datang dari Traveloka. Proses refund berhasil diselesaikan. 

Yey! Makin kuatlah alasan saya mempertahankan aplikasi ini untuk tetap nangkring di hape. 

#JadiBisa Terbang Kapan Saja

Menikmati peerbangan, #JadiBisa terbang kapan saja

Saat kami harus migrasi mendadak dari Jakarta ke Semarang, Juli lalu, saya dan suami kembali sangat tergantu dengan Traveloka. Mendapat kabar tentang penugasan mendadak suami untuk enam bulan ke Negeri Lumpia, membuat saya harus menyiapkan kepindahan yang serba instan. Untungnya untuk urusan tiket saya tak perlu mengeluarkan energi ekstra, cukup percayakan pada Traveloka. 

Untuk penginapan sementara di Semarang sampai menemukan kontrakan, kami memilih menginap beberapa hari di hotel yang dipesan lewat Traveloka.  Selain karena harga jujur, saya senang memesan hotel lewat aplikasi ini karena kualitas kamar yang disediakan sesuai harapan. Beberapa kali memesan hotel untuk keperluan staycation atau liburan dari Traveloka, saya belum pernah kecewa.  

Dan kini enam bulan hampir berlalu. Tak lama lagi, masa tugas suami di Semarang akan berakhir. Waktunya kami kembali ke Jakarta. Selama masa peralihan rencananya saya akan berlibur dulu bersama anak-anak di kampung halaman. Namun karena akhir tahun, penerbangan ke Padang relatif padat. Harga tiketpun biasanya lebih mahal dari biasa. 

Di antara pilihan yang terbatas, saya masih berharap bisa mendapatkan harga promo penerbangan Semarang-Padang untuk kami sekeluarga, berlima. Tentu saja bukan harapan kosong. Setelah upgrade aplikasi beberapa waktu lalu, saya menemukan fakta baru bahwa ada fitur baru  seperti notifikasi harga. Dengan fitur ini pelanggan akan dibantu mencarikan harga sesuai keinginan. 

Selain fitur notifikasi, juga ada fitur lain di Traveloka yang makin memanjakan pengguna. Satu aplikasi dengan segala kemudahan transaksi. The World in One Single App.




Meski belum memutuskan tanggal penerbangan pasti, saya tetap bisa menggunakan fitur notifikasi harga karena tersedia pilihan untuk rentang hingga 30 hari. Jadi saat pelacak harga Traveloka menemukan harga yang sesuai budget, saya akan mendapat notifikasi dan bisa langsung pesan. 

Toh bila tiketnya sudah dipesan dan ternyata pada tanggal tersebut saya dan keluarga berhalangan, kami bisa memanfaatkan fitur reschedule yang disediakan. 

Memiliki aplikasi Traveloka di smartphone seperti memiliki asisten, travel agent pribadi yang siap mengurus segala keperluan transportasi dan akomodasi. Dengan Traveloka #JadiBisa terbang kapan saja.  



Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.